Scroll to Top
Beternak & Budidaya

Budidaya Gaharu dan Peluang Usaha Pohon ini

Peluang Usaha Budidaya Gaharu

Budidaya GaharuJika berminat untuk budidaya gaharu, ada baiknya jika mengetahui bahwa kualita gaharu secara nasional telah ditetapkan dalam (Standar Nasional Indonesia) SNI 01-5009.1-1999 Gaharu. Dalam SNI itu, kualitas gaharu terbagi dalam 13 kelas kualita:

# Gubal gaharu dibagi dalam 3 kelas kualita (Mutu Utama= yang setara dengan mutu super mutu Pertama= setara dengan mutu AB dan mutu Kedua= setara dengan mutu sabah super),

# Kemedangan dibagi dalam 7 kelas kualita (mulai dari mutu Pertama = setara dengan mutu TGA/TK1 sampai dengan mutu Ketujuh = setara dengan mutu M3), dan

# Abu gaharu dibagi dalam 3 kelas kualita (mutu Utama, Pertama & Kedua).

Biasanya dalam perdagangan gaharu, pembagian kualitas gaharu tidak seragam antara daerah yang satu dengan daerah lain, walaupun sudah ada SNI 01-5009.1-1999 Gaharu. Contohnya, di Kalimantan Barat disepakati 9 jenis mutu yaikni dari kualitas Super A (terbaik) sampai dengan mutu kemedangan kropos (terburuk). Sedangkan di Kalimantan Timur & Riau, para pebisnis gaharu menyepakati 8 jenis mutu, mulai dari mutu super A (terbaik) hingga mutu kemedangan (terburuk).

Penetapan standar di lapangan yang tak seragam ini dimungkingkan karena keberadaan SNI Gaharu sejauh ini belum banyak diketahui dan dimanfaatkan oleh para pedagang atau pengumpul. Sebagaimana SNI-SNI hasil hutan lainnya, penerapan SNI Gaharu masih bersifat sukarela (voluntary), dimana tidak ada kewajiban untuk mengaplikasikannya. Menggunakan manfaat gaharu dari alam secara tradisional di Indonesia (Kalimantan & Sumatera), akan menjamin kelestarian pohon induknya, yakni dengan hanya mengambil bagian pohon yang ada gaharunya saja tanpa harus tebang pohonnya.

Pemanenan sebaiknya dari pohon-pohon penghasil gaharu yang mempunyai diameter di atas 20cm. Akan tetapi, sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar dan nilai jual dari gaharu, masyarakat lokal telah mendapat pesaing dari pebisnis gaharu dari tempat lain, sehingga mereka berlomba-lomba berburu gaharu. Efeknya, pemanfaatan gaharu secara tradisional yang mengacu pada prinsip kelestarian tak bisa dipertahankan lagi.

Ini berdampak pada semakin sedikitnya pohon-pohon induk gaharu. Di beberapa tempat, gaharu bahkan telah dinyatakan jarang atau hampir punah. Hal ini dikarenakan penduduk tak lagi hanya menoreh bagian pohon yang ada gaharunya, tapi langsung menebang pohonnya. Diameter pohon yang ditebang pun menurun menjadi dibawah 20cm, dan tentu saja kualita gaharu yang diperoleh pun tak bisa optimal.

Akibatnya adalah semakin langkanya tegakan pohon penghasil gaharu, dalam COP (Conference of Parties) ke – 9 CITES (Convention on the International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) di Fort Lauderdale, Florida, USA (7-18 Nopember 1994) para peserta konferensi atas usulan India menerima proposal pendaftaran salah satu spesies penghasil gaharu (A. malaccensis) dlam CITES Appendix II. Dengan demikian dalam waktu 90 hari sejak penerimaan atau penetapan proposal tersebut, perdagangan spesies tersebut harus dilakukan dengan prosedur CITES.

Peluang Usaha dari Budidaya Gaharu
Masyarakat kini sudah mulai memanfaatkan gaharu. Contohnya saja pada awal tahun 2001, di Kalimantan Timur tepatnya di Pujangan (Kayan) harga gaharu dapat mencapai 600ribu per kilogramnya . Pada tingkat eceran di kota-kota besar harga ini tentunya akan semakin berlipat. Gaharu dikenal karena mempunyai aroma yang khas dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti parfum, pewangi ruangan, hio, obat, dan lainnya. Dan dapat dipastikan untuk tahun-tahun mendatang Peluang Usaha dari Budidaya Gaharu ini sangatlah menjanjikan.

Semoga artikel kali ini bisa menjadi pengetahuan tambahan sebelum Anda melakukan budidaya gaharu.

Like it? Share it!

Leave A Response